Ada pemimpin yang menunggu keputusan menjadi sempurna. Ada pula yang sadar bahwa dalam bisnis, terlalu lama menunggu justru bisa menjadi keputusan yang paling berbahaya.
Irfan Setiaputra termasuk tipe kedua.
Dalam wawancaranya bersama Helmy Yahya, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia itu bercerita tentang prinsip yang membentuk gaya kepemimpinannya: berani mengambil keputusan, percaya kepada tim, tetapi tetap siap menanggung konsekuensinya.
Prinsip itu ia pelajari sejak masih berkarier di Bank Niaga, ketika bertemu dengan sosok Robby Johan. Salah satu nasihat yang paling membekas adalah bahwa seorang pemimpin tidak boleh terjebak dalam rapat tanpa ujung.
Jika sebuah rapat berlangsung lebih dari satu jam tanpa keputusan, Irfan teringat bagaimana Robby Johan menuntut agar keputusan segera dibuat.
Pesannya sederhana: tidak ada orang yang benar-benar tahu sebuah keputusan akan benar atau salah ketika keputusan itu dibuat. Waktu yang akan membuktikannya.
Bagi Irfan, filosofi itu kemudian menjadi pegangan. Ketika sebuah keputusan ternyata keliru, tugas pemimpin bukan sibuk mencari siapa yang salah, melainkan segera mengelola akibatnya.
Namun, keberanian mengambil keputusan bukan berarti pemimpin harus merasa paling pintar.
Justru sebaliknya.
Irfan menyebut dirinya bukan orang yang unggul secara akademis. Ia menyelesaikan kuliah Informatika ITB dalam waktu sekitar 6,5 tahun. Dari pengalaman itulah ia menyadari bahwa dirinya harus mencari keunggulan di tempat lain.
Ia kemudian membangun ambisi yang sangat spesifik: menjadi direktur utama.
Bukan sekadar jabatan, tetapi target yang membuatnya terus bergerak. Ketika peluang menjadi pemimpin di satu perusahaan sulit didapat, ia memilih berpindah dan mencari ruang untuk berkembang.
Tetapi ketika akhirnya berada di pucuk pimpinan, Irfan tidak bekerja sendirian. Ia justru menempatkan tim sebagai instrumen utama dalam mengambil keputusan.
Ia mengakui bahwa seorang direktur utama tidak mungkin menguasai semua bidang. Orang finance lebih memahami keuangan. Orang operasi lebih memahami operasional. Seorang pemimpin harus percaya kepada orang-orang yang memang memiliki kompetensi.
Kuncinya, menurut Irfan, adalah karakter dan kredibilitas.
Karena itu ia tidak terlalu mempersoalkan ketika bawahannya langsung memberikan persetujuan terhadap sesuatu yang sudah ia yakini, selama orang tersebut memang memiliki kredibilitas dan telah melalui proses penilaian yang baik.
Di sinilah gaya kepemimpinannya menarik.
Irfan menginginkan perdebatan sebelum keputusan dibuat. Tetapi setelah keputusan diambil, tidak boleh ada lagi dissenting opinion yang disimpan di belakang.
Boleh berbeda pendapat sebelum keputusan. Setelah keputusan dibuat, semua harus berdiri di belakang keputusan tersebut.
Ini bukan tentang pemimpin yang ingin selalu menang. Justru sebaliknya, keputusan bersama hanya akan efektif jika semua orang benar-benar memahami proses di balik keputusan itu.
Prinsip tersebut juga ia terapkan ketika membangun tim di Garuda Indonesia. Ia bahkan mendapat kesempatan memilih timnya sendiri. Menariknya, ia tidak membangun tim berdasarkan kedekatan pribadi.
Salah satu orang yang kemudian menjadi partner pentingnya, misalnya, justru bukan orang yang sebelumnya ia kenal.
Dengan calon wakilnya, Irfan sejak awal memilih menetapkan tone hubungan kerja. Mereka boleh berbeda kepentingan, berbeda pendapat, bahkan mungkin akan sering berdebat. Tetapi satu hal harus dijaga: persahabatan dan persaudaraan.
Bagi Irfan, konflik dalam organisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Perbedaan justru diperlukan agar keputusan tidak lahir dari ruang yang terlalu nyaman.
Yang berbahaya bukan perbedaan pendapat.
Yang berbahaya adalah orang yang tidak setuju tetapi memilih diam, kemudian setelah keputusan dibuat justru mengatakan, “Sebenarnya saya tidak setuju.”
Cara Irfan memimpin juga tercermin dari gaya komunikasinya. Ia tidak terlalu menyukai sekat formalitas. Ruang kerjanya terbuka. Orang boleh datang, berdiskusi, bahkan memanggilnya dengan nama.
Baginya, terlalu banyak formalitas bisa membuat bawahan lebih sibuk memikirkan bagaimana menyampaikan sesuatu agar atasan tidak tersinggung, daripada memikirkan apa sebenarnya masalah yang harus diselesaikan.
Dan filosofi itu menjadi semakin penting ketika ia masuk ke Garuda Indonesia dalam kondisi yang sangat berat.
Utang menumpuk. Pandemi menghantam industri penerbangan. Pesawat yang menjadi alat produksi perusahaan sebagian besar berstatus sewa, sementara kewajiban kepada lessor tidak terbayarkan.
Dalam situasi itu, Irfan bahkan mengaku sempat berpikir, bagaimana caranya mengundurkan diri.
Tetapi kemudian muncul pilihan yang jauh lebih sulit: membawa Garuda masuk ke proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
Risikonya sangat besar. Jika gagal, perusahaan bisa bangkrut. Jika berhasil pun, keputusan tersebut tetap mengandung risiko bagi manajemen.
Namun menurut perhitungannya, tanpa PKPU, Garuda justru menghadapi risiko yang lebih buruk. Pesawat yang dapat dioperasikan semakin sedikit karena pemilik pesawat mulai melarang penerbangan akibat kewajiban yang belum dibayar.
Pada titik tertentu, dari lebih dari 100 pesawat, hanya sekitar 30 yang masih dapat diterbangkan.
Artinya, perusahaan bisa saja tetap memiliki karyawan, kantor dan organisasi—tetapi kehilangan alat produksinya.
Secara bisnis, itu sama saja dengan menuju kebangkrutan.
Maka keputusan harus dibuat.
Yang menarik bukan hanya keputusan masuk PKPU, melainkan mentalitas di baliknya: pemimpin tidak selalu memiliki pilihan antara keputusan baik dan buruk. Sering kali pilihannya adalah memilih risiko yang masih bisa dikelola.
Termasuk ketika harus berhadapan dengan para kreditor.
Usulan restrukturisasi utang dengan haircut sekitar 80 persen tentu bukan keputusan yang mudah diterima. Ada pihak yang marah, menolak, bahkan mempertanyakan bagaimana mungkin utang yang besar tiba-tiba hanya dibayar sebagian.
Tetapi bagi manajemen Garuda saat itu, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana membayar utang.
Persoalannya adalah bagaimana membuat perusahaan tetap hidup sehingga masih memiliki kesempatan untuk membayar utang.
Di sinilah kepemimpinan diuji.
Bukan ketika perusahaan sedang untung dan semua orang tersenyum, melainkan ketika pilihan apa pun mengandung risiko.
Kisah Irfan Setiaputra memberikan satu pelajaran manajemen yang sederhana tetapi mahal: pemimpin tidak dibayar untuk selalu benar. Pemimpin dibutuhkan untuk berani memutuskan ketika semua pilihan sama-sama tidak nyaman.
Dan setelah keputusan dibuat, tugas berikutnya jauh lebih berat: membangun tim yang mau berjalan bersama, menghadapi konsekuensinya, lalu memperbaiki keadaan jika ternyata keputusan itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Sebab dalam dunia bisnis, seperti yang dipelajari Irfan sejak awal kariernya, waktu-lah yang akhirnya menguji apakah sebuah keputusan benar atau salah.













