Oleh: Susanti, Women Section Serikat Pekerja TPK Koja
“Menurutmu, apa itu stres?”
Pertanyaan sederhana itu meluncur dari Dr. Syed Asif Altaf—atau yang akrab kami panggil Dr. Asif—dokter asal Bangladesh, saat membuka Training of Trainers (ToT) Kesehatan Mental yang diselenggarakan NCC Indonesia, bidang Women Section.
Ruangan seketika riuh. Dua puluh empat perempuan dari berbagai serikat pekerja saling bersahutan menjawab. Tawa pecah, candaan mengalir. Barangkali karena kami perempuan, atau barangkali karena topik ini sering kami anggap sepele.Stres memang bukan istilah asing.

Hampir setiap hari kita mendengarnya. “Aduh, stres sama kerjaan kantor,” atau keluhan remaja, “Stres lihat jerawat di muka.” Definisi stres pun mudah dicari—Wikipedia, Google, semua tersedia. Tapi kami berkumpul bukan untuk mencari arti kata. Kami datang karena stres, bila dibiarkan, bisa menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Kami adalah perempuan dari 13 afiliasi serikat pekerja sektor transportasi—pelabuhan, pelaut, transportasi publik, hingga penerbangan—di bawah naungan NCC Indonesia dan berafiliasi dengan ITF Global Transportation.
Bertempat di Kantor Kesatuan Pelaut Indonesia, Cikini, kami membicarakan satu hal yang selama ini kerap disimpan rapat: kesehatan mental di dunia kerja.Sebelum ToT dimulai, Dr. Asif membagikan angket yang diisi oleh anggota serikat di berbagai sektor—pekerja pelabuhan, pengemudi ojek daring, pramugari, hingga pelaut perempuan.

Hasilnya membuat kami terdiam. Sebanyak 8,7 persen responden mengaku pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup. Angka yang mengejutkan. Selama ini, bunuh diri dianggap tabu, sesuatu yang “tidak mungkin terjadi” di sekitar lingkungan kerja kita. Namun data berbicara jujur: itu nyata.
Saya dan Widiastuti dari SP TPK Koja merasa beruntung bisa mengikuti ToT ini. Selama ini, hidup kami terasa baik-baik saja. Kami bekerja, tersenyum, menjalani hari dengan rutinitas. Namun ketika mengetahui ada teman-teman yang mulai memberi sinyal gangguan kesehatan mental, kami tersentak.

Ternyata, kesehatan mental bukan sesuatu yang bisa ditunda untuk dipikirkan.Pelan-pelan, kami mulai bercermin pada diri sendiri. Menjadi teman yang siap mendengar dan berbagi ternyata tidak mudah. Mengenali tanda-tanda teman yang sedang bermasalah tidak bisa dengan sikap cuek. Dan pekerjaan rumah paling penting adalah memastikan diri sendiri cukup kuat: mental yang terjaga, tidur yang cukup, tubuh yang sehat, dan kemampuan menyelesaikan masalah pribadi.
Dari situlah langkah berikutnya dimulai—siap hadir untuk orang lain yang membutuhkan pertolongan.Selama dua hari, 17–18 Januari, kami belajar bersama tentang kesehatan mental. Pelajaran terpentingnya sederhana, tapi sering dilupakan: berbagi, empati, dan hadir sepenuh hati.
Membiarkan seseorang bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi perhatian—bahkan pelukan—ternyata bisa menjadi pertolongan pertama bagi mereka yang sedang berada di titik rapuh.
Di tengah kegiatan itu, saya teringat lagu Cry for Help dari Rick Astley (1991):
Why must we hide emotions?
Why can’t we ever break down and cry?
All that I need is to cry for help
Kadang, yang dibutuhkan seseorang hanyalah ruang untuk menangis. Telinga yang mau mendengar. Pelukan yang tulus. Empati yang tidak menggurui.Terima kasih kepada NCC Indonesia, Kesatuan Pelaut Indonesia, dan semua pihak yang memungkinkan kegiatan ini terlaksana.
Dan terutama, terima kasih untuk perempuan-perempuan hebat yang berdiri berdampingan dengan kami—perempuan pekerja yang belajar untuk saling menjaga.Karena satu pelukan, satu empati, bisa mengubah hidup seseorang.Lalu pertanyaannya kini: siapkah kita berbagi tangis? Siapkah kita memeluk teman saat ia jatuh?Mari mulai dari sekarang.***














Keren tulisannya bunda Santi, sudah cocok ini jadi peer support 1st responder….❤️❤️❤️