Palembang, Mediatrans.id – Sebagai bagian dari ekosistem logistik nasional, PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) Cabang Palembang terus memperkuat perannya dalam mendukung kelancaran bongkar muat yang andal dan terintegrasi. Salah satunya aktivitas bongkar muat pupuk kemasan (bag cargo) jenis Muriate of Potash (MOP) sebanyak 4.509 ton di Dermaga PTP Nonpetikemas Cabang Palembang.
Komoditas ini diangkut menggunakan kapal MV Gold Spring yang berasal dari Pelabuhan Cuo Lo, Vietnam. Kapal MV Gold Spring yang sandar pada Selasa, 14 April 2026 direncanakan melakukan kegiatan bongkar selama lima hari hingga Minggu, 19 April 2026. Proses bongkar ini dilakukan oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT Kharisma Bahari dengan memanfaatkan fasilitas pelabuhan yang tersedia, antara lain Jib Crane, Hopper, dan Grab.
Pupuk MOP yang dibongkar merupakan bahan baku impor milik PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri), yang akan digunakan dalam proses produksi pupuk majemuk NPK (Nitrogen, Fosfat, dan Kalium). Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan bahan baku industri pupuk nasional serta mendukung sektor pertanian di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan (Sumsel).
Pupuk dan Swasembada Pangan
Sekadar menyegarkan ingatan, hingga tahun 2029 mendatang, Kementerian Pertanian menargetkan wilayah Sumsel menjadi salah satu pilar program swasembada pangan. Sumsel menjadi provinsi prioritas dalam program swasembada pangan bersama dengan tiga provinsi lainnya, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan. Sumsel juga dibidik oleh Kementerian Pertanian masuk peringkat tiga besar sebagai Lumbung Pangan Nasional.
“Kami upayakan masuk tiga besar, kalau bisa nomor satu, karena potensi (Sumsel) besar. Kami rancang pertaniannya sebagai lumbung pangan nasional,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seperti dikutip Tempo, 4 Maret 2025.
Diketahui, Sumsel menjadi urutan ke-lima, sebagai daerah penghasil gabah dan beras nasional. Luas baku sawah yang dimiliki Sumsel adalah 470.602 Hektare (Ha) dan bertambah menjadi 519.880 Ha dari rilis Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2024 lalu.
Tak bisa dipungkiri, ambisi besar Kementerian Pertanian untuk menjadikan Sumsel sebagai pilar swasembada pangan membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Tentunya tak hanya sebatas petani, pemerintah provinsi, kabupaten atau kota saja, namun juga dari rantai pasok logistik.
Karena itu, kelancaran aktivitas bongkar muat pupuk di dermaga PTP Nopnpetikemas merupakan bagian penting dari pencapaian target swasembada pangan tersebut. Bayangkan ketika sawah sudah siap diolah, benih siap ditanam, namun pupuk terlambat didistribusikan kepada petani karena proses bongkar muat di Pelabuhan mengalami kendala, tentunya target swasembada pangan sulit diwujudkan.
Tak berlebihan jika saat menerima penghargaan dari Presiden Prabowo Subianto dalam kegiatan Panen Raya, awal Januari 2026 lalu, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Daru mengakui keberhasilan Sumatera Selatan dalam meningkatkan produksi beras merupakan kerja kolektif dari semua pihak. Gubernur menyebutkan peran penting petani dan buruh tani yang bekerja di sawah-sawah, para penyuluh pertanian, Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA), gabungan kelompok tani (Gapoktan), serta seluruh pemangku kepentingan terkait mulai dari jajaran Dinas Pertanian di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, distributor pupuk, hingga Bulog.
Kolaborasi
Meskipun tak disebut Gubernur secara langsung, kecepatan serta ketepatan layanan bongkar muat yang dilakukan PTP Nonpetikemas memberikan kontribusi besar terhadap kelancaran rantai pasok logistik di wilayah tersebut.
Hal ini seperti ditegaskan Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, Ade Affandi, yang mendukung penuh kelancaran distribusi logistik, khususnya komoditas strategis seperti pupuk. Salah satu bentuk dukungan itu adalah implementasi transformasi digital PTOS-M (Pelindo Terminal Operating System Multipurpose).
PTOS-M merupakan sistem operasi terminal terintegrasi milik Pelindo yang digunakan untuk mengelola berbagai jenis kargo, termasuk nonpetikemas secara digital, mencakup seluruh proses mulai dari perencanaan, operasi, pemantauan, hingga pelaporan untuk meningkatkan efisiensi dan standardisasi layanan pelabuhan di Indonesia.
“Kami berkomitmen penuh untuk mendukung kelancaran distribusi pupuk sebagai komoditas strategis nasional. Melalui dukungan fasilitas dan pelayanan operasional yang optimal, kami berharap proses distribusi ini dapat berjalan lebih efisien dan tepat waktu, sehingga mampu menunjang kebutuhan industri pupuk serta sektor pertanian di wilayah ini,” ujar Ade.
Pada akhirnya, upaya yang dilakukan PTP Nonpetikemas dalam memastikan kelancaran bongkar muat pupuk menjadi bagian penting dari keberhasilan Sumatera Selatan mewujudkan target swasembada pangan. Sepintas peran ini tak terlihat, tapi PTP Nonpetikemas sudah membuktikan berkat inovasi layanan yang dilakukannya, produksi pertanian di wilayah ini terus meningkat.***













