Kita hidup di zaman yang serba “lebih”. Lebih sibuk, lebih cepat, lebih banyak target, lebih banyak barang, lebih banyak teman, bahkan lebih banyak kekhawatiran. Tapi pernahkah kita bertanya: jangan-jangan justru karena terlalu banyak, kita lupa bagaimana rasanya bahagia?
Ada sebuah refleksi menarik yang dibagikan Helmi Yahya setelah menemukan sebuah buku sederhana saat bepergian ke Bangkok.
Seperti kebiasaannya ketika bepergian jauh ke luar negeri, Helmi menyempatkan diri mampir ke toko buku di bandara. Ia bukan mencari buku yang tebal dan penuh tulisan. Justru buku yang sederhana, banyak ilustrasi, dan enak dibaca selama perjalanan yang menarik perhatiannya.
Sampailah ia pada sebuah buku dengan judul yang terdengar sederhana, tetapi sekaligus seperti menyentil kehidupan manusia modern: All You Need Is Less.
Buku karya Vicki Vrint itu membawa sebuah gagasan yang terdengar paradoks: mungkin yang kita butuhkan untuk hidup lebih bahagia bukan menambah sesuatu, melainkan mengurangi.
Mengurangi stres. Mengurangi pikiran yang tidak perlu. Mengurangi barang yang tidak perlu. Mengurangi makanan yang tidak perlu. Mengurangi hubungan yang menguras energi. Mengurangi kekhawatiran.
Dan Helmi menambahkan satu hal lagi: mengurangi ambisi yang tidak perlu.
Buku tersebut memang mengajak pembacanya menyederhanakan kehidupan agar memiliki lebih banyak ruang untuk hal-hal yang benar-benar penting.
Kurangi stres yang tidak perlu
Kita sering mengira stres adalah konsekuensi dari kerja keras. Padahal tidak selalu.
Sebagian stres justru lahir dari hal-hal yang sebenarnya bisa kita hindari: terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, takut tertinggal, takut gagal, takut tidak mencapai sesuatu, atau terus memikirkan penilaian orang.
Helmi mengingatkan bahwa bekerja keras tetap penting. Tetapi manusia bukan mesin. Setelah bekerja keras, tubuh dan pikiran juga membutuhkan penghargaan.
Ada waktunya bekerja. Ada waktunya berhenti. Ada waktunya mengejar target. Ada waktunya menikmati hidup.
Karena itu, olahraga, berjalan pagi, bernyanyi, menikmati hobi, bepergian bersama keluarga, atau sekadar menyediakan waktu untuk diri sendiri bukanlah kemewahan.
Itu adalah cara kita mengisi ulang energi.
Hidup jangan hanya diisi dengan kewajiban. Sisakan ruang untuk kegembiraan.
Kurangi pikiran yang tidak perlu
Ini mungkin yang paling sulit. Otak kita terbatas, tetapi sering kali kita memaksanya memikirkan segala sesuatu. Masa lalu kita pikirkan. Masa depan kita khawatirkan. Urusan orang lain kita ikut pikirkan. Komentar orang kita pikirkan. Kesalahan bertahun-tahun lalu masih kita sesali.
Peluang yang dulu tidak kita ambil masih kita tangisi. Padahal semuanya sudah lewat. Yang sudah terjadi tidak bisa diedit. Yang belum terjadi belum tentu benar-benar terjadi.
Lalu untuk apa menghabiskan energi hari ini untuk sesuatu yang tidak bisa kita ubah?
Helmi mengajak kita kembali kepada sesuatu yang lebih sederhana: fokus pada apa yang penting hari ini.
Bukan berarti kita tidak perlu merencanakan masa depan. Tetapi jangan sampai masa depan yang belum terjadi merampas kebahagiaan hari ini.
Ada satu gagasan yang menarik: jadikan setiap hari lebih baik dengan melakukan satu kebaikan.
Satu hari, satu kebajikan. Kecil tidak masalah. Sebab hidup yang baik tidak selalu dibangun oleh lompatan besar. Kadang ia tumbuh dari kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Kurangi barang yang tidak perlu
Ini penyakit zaman digital. Buka marketplace. Ada diskon. Klik. Ada gratis ongkir. Klik lagi. Ada promo. Beli.
Padahal barang yang lama saja belum tentu terpakai.
Helmi bercerita, ia pernah membeli merchandise Cristiano Ronaldo secara online. Ukurannya sama-sama M. Tetapi ketika datang, hasilnya berbeda: kausnya pas, sweater kebesaran, sementara jaket malah kekecilan.
Cerita sederhana itu menggambarkan satu persoalan besar: kita sering membeli bukan karena membutuhkan, tetapi karena tergoda.
Akhirnya rumah semakin penuh. Lemari semakin sesak. Barang menumpuk di sudut-sudut rumah. Dan yang lebih ironis, sebagian besar tidak pernah benar-benar digunakan.
Barang yang terlalu banyak bukan hanya memenuhi ruangan. Kadang juga memenuhi kepala.
Karena itu, sebelum membeli sesuatu, mungkin ada baiknya bertanya: “Saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya sedang menginginkannya?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menyelamatkan dompet sekaligus menyelamatkan rumah dari barang-barang yang tidak perlu.
Kurangi makanan yang tidak perlu
“Less” ternyata bukan hanya soal barang. Makanan pun perlu diseleksi. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati makanan enak. Tetapi jangan sampai sesuatu yang menyenangkan lidah justru menjadi beban bagi tubuh.
Makanan cepat saji, terlalu berminyak, terlalu manis, atau dikonsumsi berlebihan mungkin terasa menyenangkan sesaat. Tetapi tubuh memiliki cara sendiri untuk menagihnya kemudian.
Karena itu, semakin bertambah usia, semakin penting kita memahami satu hal: makan bukan sekadar untuk kenyang, tetapi untuk menjaga tubuh tetap mampu menjalani kehidupan.
Lebih banyak makanan bergizi, sayuran, protein yang baik, dan pola makan yang seimbang.
Sesekali menikmati makanan favorit tentu boleh. Tetapi jangan biarkan “sesekali” berubah menjadi kebiasaan.
Kurangi teman yang tidak perlu
Banyak teman memang menyenangkan. Tetapi banyak teman belum tentu membuat hidup lebih baik. Ada hubungan yang membuat kita bertumbuh.
Ada pula hubungan yang justru membuat kita kehilangan energi. Ada teman yang memberi semangat.
Ada yang terus mengajak mengeluh. Ada yang membuka wawasan. Ada pula yang membawa kita ke masalah.
Karena itu, yang perlu dikurangi bukan jumlah teman semata, melainkan hubungan yang toksik dan tidak membawa kebaikan.
Helmi mengingatkan pentingnya memilih lingkungan. Bergaullah dengan orang yang memiliki nilai positif. Orang yang lebih bersemangat, lebih berpengalaman, lebih baik dalam bidang tertentu, atau memiliki kualitas yang ingin kita pelajari.
Bukan berarti kita harus memilih teman berdasarkan kekayaan atau status. Sama sekali bukan.
Seseorang mungkin tidak kaya secara materi, tetapi kaya pengalaman. Tidak terkenal, tetapi sangat religius. Tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi memiliki semangat hidup luar biasa.
Setiap manusia memiliki sesuatu untuk dipelajari. Yang penting, hubungan tersebut membuat kita tumbuh, bukan justru jatuh.
Kurangi kekhawatiran
Ada orang yang belum naik ke panggung, tetapi sudah takut ditertawakan. Belum presentasi, sudah membayangkan gagal. Belum bertemu investor, sudah membayangkan ditolak.
Belum terjadi apa-apa, tetapi pikiran sudah membuat seribu skenario buruk. Itulah kekhawatiran. Dan sering kali, kenyataan tidak seburuk yang kita bayangkan.
Kita memang perlu mempersiapkan diri. Tetapi persiapan berbeda dengan kekhawatiran. Persiapan membuat kita siap menghadapi masa depan. Kekhawatiran berlebihan justru menghabiskan energi sebelum masa depan itu datang.
Maka lakukan yang bisa dilakukan hari ini. Persiapkan sebaik mungkin. Setelah itu, lepaskan hal-hal yang memang berada di luar kendali kita.
Dan satu lagi: kurangi ambisi yang tidak perlu
Inilah tambahan Helmi yang menarik. Kurangi ambisi. Bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan berarti menjadi malas. Bukan berarti tidak boleh sukses.
Justru sebaliknya. Ambisi perlu diarahkan. Jangan semua ingin dikejar sekaligus. Ingin kaya. Ingin terkenal. Ingin sukses. Ingin menjadi profesional. Ingin punya banyak bisnis. Ingin membantu semua orang. Ingin memiliki semuanya.
Akhirnya energi terbagi ke mana-mana. Seperti orang yang mengejar lima kendaraan sekaligus. Karena berlari ke sana kemari, akhirnya tidak mendapatkan satu pun.
Maka pilih. Fokus pada satu hal yang paling penting. Kalau satu tujuan sudah tercapai, kita bisa bergerak ke tujuan berikutnya. Sebab hidup memiliki batas.
Waktu kita terbatas. Energi kita terbatas. Perhatian kita terbatas. Dan justru karena semuanya terbatas, kita harus belajar memilih apa yang benar-benar layak diperjuangkan.
Bahagia ternyata tidak selalu berarti memiliki lebih banyak
Pada akhirnya, pesan All You Need Is Less bukan tentang menjadi miskin, berhenti bekerja keras, atau tidak memiliki ambisi.
Ini tentang kesadaran untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Antara yang penting dan yang hanya mengganggu.
Antara sesuatu yang membuat kita bertumbuh dan sesuatu yang hanya menguras energi. Kita sering mengejar “lebih” karena mengira kebahagiaan berada di sana.
Lebih banyak uang. Lebih banyak barang. Lebih banyak pencapaian. Lebih banyak pengakuan. Padahal bisa jadi, setelah semuanya didapat, kita tetap merasa kurang.
Mungkin karena yang perlu ditambah bukanlah sesuatu di luar diri kita. Yang perlu ditambah adalah ruang untuk menikmati apa yang sudah kita miliki.
Dan untuk menciptakan ruang itu, terkadang kita harus berani mengurangi. Kurangi stres. Kurangi pikiran yang tidak perlu. Kurangi barang yang tidak perlu. Kurangi makanan yang tidak perlu. Kurangi hubungan yang menguras energi. Kurangi kekhawatiran. Dan, seperti pesan tambahan Helmi Yahya, kurangi ambisi yang tidak perlu.
Karena hidup bukan perlombaan untuk memiliki semuanya. Hidup adalah perjalanan untuk menemukan apa yang benar-benar penting bagi kita.
Dan mungkin, pada titik tertentu, kita akan menyadari: Bahagia bukan ketika kita memiliki semakin banyak. Bahagia adalah ketika kita tidak lagi membutuhkan terlalu banyak untuk merasa cukup.












